10 Fitur Terbaru Smartphone yang Tuai Keluhan

10 Fitur Terbaru Smartphone yang Tuai Keluhan

Beberapa tahun belakangan, desain smartphone terlihat seragam. Jika juga ada inovasi yang diperkenalkan di antara vendor, maka vendor beda akan mengikuti dan menjadi tren baru.

Desain layar “notch” misalnya. Sejak diperkenalkan oleh Apple di iPhone X akhir 2017 lalu, ada tidak sedikit vendor smartphone Android yang ikut-ikutan memakai desain layar “poni” itu dalam kurun waktu tidak cukup dari setahun.

Nyatanya, tidak seluruh pemakai Android senang dengan inovasi yang ditawarkan. Berikut fitur-fitur yang menjadi tren di smartphone, tetapi tetap dikeluhkan dan menciptakan jemu pemakai setianya.

1. Hilangnya colokan jack audio 3,5 mm

Ketika kesatu kali Apple mengenalkan iphone 7 tanpa colokan audio jack 3,5mm, Apple menuai tidak sedikit cacian. Namun ternyata, tidak sedikit juga vendor yang mengekor jejak Apple untuk mencopot colokan jack audio.

Tak melulu ikuti tren, banyak sekali pabrikan memilih pilihan tersebut atas pertimbangan desain. Tanpa colokan jack audio, bodi ponsel bakal semakin ramping, ruang guna kapasitas baterai semakin luas, dan semakin gampang membuatnya anti-air.

Alasan hemat juga dipertimbagkan, di mana produsen pun menjual headphone nirkabel atau USB type C secara terpisah. Dengan demikian, pemakai mesti melakukan pembelian adaptor lagi guna memasang perlengkapan audio di ponselnya, andai memilih tidak memakai koneksi wireless.

2. Baterai tanam

Ponsel kekinian tidak sedikit mengusung desain unibodi, di mana baterai tertanam di bodi perangkat. Hal tersebut mengakibatkan pemakai tidak dapat seenaknya mengubah baterai perangkat.

Desain non-removable bisa jadi cocok untuk mereka yang mengkhususkan desain ponsel ramping nan kokoh. Namun untuk pemakai yang hendak mempunyai ponsel tahan lama bertahun-tahun, ini bukan pilihan menyenangkan.

Baterai menjadi di antara komponen yang cepat terdegradasi. Seiring pemakainya dari masa-masa ke waktu, keterampilan baterai bakal tergerus. Dengan menanamkannya di perangkat, otomatis pemakai tidak dapat menggantinya dengan mudah.

Harga penggantian baterai resmi juga akan paling mahal andai lewat masa garansi. Walhasil, pemakai “terpaksa” mengubah smartphone model baru andai sudah tidak puas dengan performa baterai, dan mengekor permainan vendor.

3. “Notch” atau layar poni

Seperti hilangnya colokan headphone jack 35mm di iPhone 7, kala Apple mengenalkan iPhone X dengan desain “notch” atau poni, hujatan juga tidak sedikit menghampiri. Namun “cacian” tersebut berubah menjadi tren baru.

Hanya dalam kurun setahun, tidak sedikit vendor Android menelurkan ponsel poni mereka. Layar “poni” seakan menjadi sinonim ponsel premium sekelas iPhone X ekuivalen belasan juta rupiah. Tapi, tidak sedikit pula pemakai yang terganggu dengan takik yang menjorok di layar unsur itu.

Beberapa memandang “notch” mengganggu keindahan layar dan memaksa software software serta sistem operasi untuk mencatut antarmuka dengan tepat tanpa terpotong. Seperti yang dilaksanakan YouTube, yang mesti mencatut notch dengan latterboxing (garis hitam di layar) guna menyesuaikan aspek rasio menarik 19,5:9 kepunyaan iPhone X.

4. Bezel-less dan layar lengkung

Alasan satu ini dapat jadi paling subyektif bila disaksikan dari banderol harga. Semakin tipis bingkai (bezel) yang tersisa, maka display bakal semakin luas dan pasti akan meningkatkan ongkos produksi panel.

Apalagi andai mengadopsi curved display alias layar dengan pinggiran melengkung laksana Samsung Galaxy S series. Dari pemantauan KompasTekno di forum Quora, Rabu (29/8/2018), masih ada sejumlah pemakai yang tidak keberatan dengan bezel tebal di tepian display.

Namun andai menilik dari peforma, desain bezel-less dapat dibilang lumayan mendongkrak kualitas layar. Apalagi dengan layar lengkung, kualitas empiris multimedia pemakainya pun akan terdongkrak. Layar lengkung pun mampu menyerahkan informasi software lebih tidak sedikit dibanding layar biasa.

5. Bodi ponsel yang semakin ramping

Soal desain, ponsel yang tipis memang bukan persoalan. Tapi bila disaksikan dari materialnya, sejumlah pemakai tidak cukup menyukainya. Sebagian pemakai smartphone menyalahkan bahan aluminium kualitas rendah yang tidak sedikit digunakan pabrikan smartphone.

Alasannya, material itu disebut https://www.pro.co.id lebih enteng dibanding bahan baja dan tidak gampang pecah layaknya bahan kaca. Namun kekuatannya pun tidak akan seimbang dengan bahan baja.

Trauma ini dimulai dari gejala bendgate atau kejadian iPhone 6 dan iPhone 6 Plus yang dapat dibengkokan dengan tangan kosong. Di samping itu, ponsel yang tipis menunjukkan internal yang lebih sempit dan memberi batas kapasitas baterai.

6. Dukungan kecerdasan produksi yang “membodohi”

Pindah ke sektor piranti lunak. Tak melulu pekara hardware, sejumlah pemakai pun kurang menyenangi inovasi aplikasi yang tidak sedikit dibawa smartphone masa kini.

Salah satunya ialah dukungan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan produksi yang dirasakan mengelabuhi pemakai. Mereka memandang AI hanyalah gimmick semua vendor untuk mencatut pemakainya.

AI memang mempunyai neuron network accelerator yang dapat mendukung sejumlah tugas tertentu laksana image processing dan facial recognition yang seharusnya menjadi beban digital signal processing (DSP) tradisional.

Tapi neuron itu sejatinya ialah unit SIMD (single instruction, multiple data) yang bekerja di GPU ketimbang di prosesor.

7. Antarmuka serupa iOS

Salah satu pertimbangan tidak memilih iPhone barangkali saja sebab sistem operasinya. Jadi ketika vendor Android ikut melapisi OS Android dengan antarmuka besutan mereka yang serupa iOS, pasti bukan kabar baik.

Seperti yang dilaksanakan Huawei guna antarmuka EMUI dan MIUI produksi Xiaomi. Keduanya bahkan dinamakan sebagai iOS versi murah.

8. Bundling carpware dan adware

Beberapa vendor smartphone turut menyisipkan paket software “buangan” ke OS. Beberapa pemakai menyatakan mendapati crapware atau software sampah, berupa aplikasi uji jajaki atau promo yang terinstal secara built-in.

Mereka pun menemukan adware mengandung iklan yang tak jarang masuk ke kualifikasi trojan oleh sejumlah vendor anti-virus. Beberapa produsen smrtphone pun menyelipkan promosi software lain di pembaruan firmware.

9. Harga ponsel premium yang tinggi

Soal harga, pasti akan relatif. Namun andai diamati, semakin hari, harga ponsel flagship semakin mahal. Tidak melulu iPhone, ponsel high-end Android juga harganya semakin menjadi-jadi. Selisih spesifikasi antara ponsel ruang belajar menengah dan flagship juga semakin menciptakan flagship tidak cukup diminati.

10. Hilangnya IR blaster dan MHL

Terakhir, tetapi bukan yang sangat akhir, ialah hilangnya fitur IR Blaster yang berperan sebagai remote control di sejumlah smartphone. Pengguna pun mengeluhkan dihapusnya konektivitas MHL di koneksi nirkabel laksana Miracast/DLNA.

Di samping itu, eksklusif pemakai Android pun menyesalkan pembaruan OS yang tidak kompatibel di perlengkapan berusia dua tahun lebih tua dari umur OS.

Baca Juga: