PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA DALAM MENSIKAPI FENOMENA ALAM

PERKEMBANGAN PEMIKIRAN MANUSIA DALAM MENSIKAPI FENOMENA ALAM

PEMIKIRAN MANUSIA
PEMIKIRAN MANUSIA

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai makhluk yang berpikir akan dibekali rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu inilah yang mendorong untuk mengenal, memahami, dan menjelaskan gejala-gejala alam, juga berusaha untuk memecahkan masalah atau persoalan yang dihadapi, serta berusaha untuk memahami masalah itu sendiri, ini semua menyebabkan manusia mendapatkan pengetahuan yang baik.

Pengetahuan yang diperoleh mula-mula terbatas pada hasil pengamatan terhadap gejala alam yang ada, kemudian semakin bertambahnya dengan pengetahuan yang diperoleh dari hasil pemikirannya, setelah manusia mampu memadukan kemampuan penalaran dengan eksperimentasi ini, maka lahirlah ilmu pengetahuan yang mantap atau bagus.

Jadi, perkembangan alam pikiran manusia sampai dengan kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam sebagai ilmu yang mantap, melalui 4 (empat) tahap yaitu tahap mitos, tahap penalaran deduktif (rasionalisme) atau tahap pemikiran rasional, tahap penalaran induktif (empirisme) atau tahap pemikiran empiris, dan akhirnya sampai ke tahap pengkristalan konsep metode ilmiah.

  • Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah yang telah dijelaskan di atas, maka penulis dapat menyimpulkan perumusan beberapa permasalahan yang akan dibahas dalam karya ilmiah ini, yaitu:

  1. Apakah rasa ingin tahu menyebabkan alam pikiran manusia berkembang?
  2. Apakah melalui mitos, manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian alam sekitarnya?
  3. Apakah dapat dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan penggabungan antara penalaran empirisme dan penalaran rasionalisme?

  • Tujuan Penulisan dan Manfaat Penulisan

Dalam penulisan karya ilmiah, tentu memiliki tujuan penulisan dan manfaat penulisan. Berikut ini merupakan uraian dari tujuan penulisan dan manfaat penulisan karya ilmiah ini.

Tujuan dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  • Untuk memahami perkembangan penalaran manusia terhadap gejala-gejala alam sampai terwujudnya metode ilmiah.
  • Untuk dapat menjelaskan perkembangan alam pikiran manusia dalam memenuhi kebutuhan terhadap rasa ingin tahunya.
  • Untuk memberi alasan yang diterima mitos dalam kehidupan masyarakat.

Manfaat dari penulisan karya ilmiah ini adalah sebagai berikut:

  • Untuk menjelaskan alasan ketidakpuasan masyarakat tentang metode deduksi dalam menjelaskan kebenaran atas gejala alam.
  • Untuk mengungkapkan dengan kata-kata sendiri tentang mulai tumbuhnya Ilmu Pengetahuan Alam.
  • Untuk menyebutkan keunggulan dan keterbatasan serta peranan metode ilmiah.

1.4     Sistematika Penulisan

Secara garis besar penulisan dan penyusunan karya ilmiah ini, penulis membaginya menjadi tiga (III) bab yang masing-masing bab terdiri atas beberapa sub bab. Maka secara garis besar, perumusan ini dapat dilihat sebagai berikut:

BAB I     :   PENDAHULUAN

Pada bab ini akan disajikan tentang latar belakang masalah,   perumusan masalah, tujuan penulisan dan manfaat penulisan, dan sistematika penulisan.

          BAB II    :   PEMBAHASAN MASALAH

Pada bab ini akan dikemukakan cakupan perkembangan pikiran manusia, cakupan mitos, penalaran, dan pengetahuan pangkal kelahiran ilmu pengetahuan alam, dan cakupan metode ilmiah sebagai ciri ilmu pengetahuan alam sesuai dengan judul yang dipilih.

          BAB III  :   PENUTUP

Pada bab ini akan dimuat tentang kesimpulan dan saran-saran dari hasil pembuatan karya ilmiah.

BAB II

PEMBAHASAN MASALAH

  • Perkembangan Pikiran Manusia

  1. Sifat Unik Manusia

Dibandingkan dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohani, akal budi, dan kemauannya sangat kuat. Manusia tidak mempunyai tanduk, taji, ataupun sengat, maka untuk membela diri terhadap serangan dari makhluk lain dan untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan, manusia harus memanfaatkan akal budinya yang cemerlang. Kemauannya yang keras menyebabkan manusia dapat mengendalikan jasmaninya.

Hal ini dapat menimbulkan efek yang negatif misalnya, manusia dapat mogok makan, dapat minum-minuman keras sampai mabuk, dan bahkan dapat bunuh diri. Kalau tubuh mendapat pengaruh yang negatif dari lingkungan, maka timbul reaksi yang mendorong tubuh supaya melepaskan diri dari lingkungan yang merugikan itu. Tetapi kemauan keras dapat memaksa tubuh supaya tetap menerima pengaruh yang negatif itu. Jadi, sifat unik manusia itu adalah akal budi dan kemauannya menaklukkan jasmaninya.

  1. Rasa Ingin Tahu

Dengan pertolongan akal budinya, manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Dengan kata lain, rasa ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya.

Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.


Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:

  1. Penyelidikan langsung.
  2. Penggalian hasil-hasil penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain.
  3. Kerjasama dengan penyelidik-penyelidik lain yang juga sedang memecahkan soal yang sama atau yang sejenis.

Sebenarnya setiap orang mempunyai rasa ingin tahu, meskipun kekuatan atau intensitasnya tidak semua sama, sedangkan bidang minatnyapun berbeda-beda. Rasa ingin tahu inilah yang dapat diperkuat ataupun diperlemah oleh lingkungan.

Jadi rasa ingin tahu tiap manusia pada setiap saat belum tentu sama kuat, demikian pula kelompok fenomena yang menimbulkan rasa ingin tahu biasanya berbeda-beda dan dapat berubah-ubah menurut keadaan. Tidak mungkin setiap individu mempunyai rasa ingin tahu yang sama kuat terhadap segala fenomena yang terjadi dari alam.

Rasa ingin tahu yang terus berkembang dan seolah-olah tanpa batas itu menimbulkan perbendaharaan pengetahuan pada manusia itu sendiri. Hal ini tidak saja meliputi kebutuhan-kebutuhan praktis untuk hidupnya sehari-hari seperti bercocok tanam, tetapi pengetahuan manusia juga berkembang sampai kepada hal-hal tentang keindahan.

  1. Rasa Ingin Tahu Menyebabkan Alam Pikiran Manusia Berkembang

Ada dua macam perkembangan yang akan kita tinjau, yaitu:

  1. Perkembangan alam pikiran manusia sejak zaman purba hingga dewasa ini.
  2. Perkembangan alam pikiran manusia sejak dilahirkan sampai akhir hayatnya.

Perkembangan alam pikiran dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan dari dalam yang berupa rasa ingin tahu. Jadi dengan kata lain, bahwa alam pikiran manusia berkembang terutama karena ada dorongan dari dalam, yaitu rasa ingin tahu.

  • Mitos, Penalaran, dan Pengetahuan Pangkal Kelahiran Ilmu Pengetahuan Alam
  1. Mitos

Menurut A. Comte, bahwa dalam sejarah perkembangan manusia itu ada tiga tahap, yaitu:

  1. Tahap teologi atau tahap metafisika
  2. Tahap filsafat
  3. Tahap positif atau tahap ilmu

Dalam tahap teologi atau tahap metafisika, manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan, yaitu pengetahuan yang tidak obyektif, melainkan subyektif. Mitos ini diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia. Dalam alam pikiran, mitos, rasio atau penalaran belum terbentuk, yang bekerja hanya daya khayal, intuisi, maupun imajinasi.

Menurut C.A. van Peursen, mitos adalah suatu cerita yang memberikan pedoman atau arah tertentu kepada sekelompok orang. Cerita itu dapat ditularkan, dapat pula diungkapkan lewat tari-tarian atau pementasan wayang, dan sebagainya. Inti cerita adalah lambang-lambang yang mencetuskan pengalaman manusia beserta lambang kejahatan dan kebaikan, kehidupan dan kematian, dosa dan penyucian, juga perkawinan dan kesuburan.

Pada tahap teologi ini, manusia menemukan identitas dirinya. Manusia sebagai subyek yang masih terbuka dikelilingi oleh obyek yaitu alam, sehingga manusia mudah sekali dimasuki oleh daya dan kekuatan alam. Lewat mitos inilah, manusia dapat turut serta mengambil bagian dalam kejadian-kejadian alam sekitarnya, dan dapat menanggapi daya kekuatan alam.

Berikut ini akan dijelaskan contoh-contoh mengenai mitos, yaitu:

  1. Gunung api meletus hebat, menimbulkan gempa bumi, mengeluarkan lahar panas dan awan panas, sehingga menimbulkan banyak korban manusia. Manusia pada tahap teologi (menurut A. Comte) atau pada tahap mitos (C.A. van Peursen) belum dapat melihat realita ini dengan inderanya.
  2. Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya) memindahkan bumi dari bahu yang satu ke bahu yang lain.
  3. Gerhana bulan disangka terjadi karena bulan dimakan raksasa.
  4. Bunyi guntur dikira ditimbulkan oleh roda kereta yang dikendarai dewa melintasi langit.

Mencari jawaban atas masalah seperti itu, dan menghubungkannya dengan makhluk-makhluk gaib, disebut berpikir secara irasional. Demikianlah manusia pada tahap mitos atau teologi menjawab keingintahuannya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena alam pikirannya masih terbatas pada imajinasi atau intuisi.


  1. Penalaran Deduktif (rasionalisme)

Dengan bertambah majunya alam pikiran manusia dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos.

Menurut A. Comte, dalam perkembangan manusia sesudah tahap mitos, manusia berkembang dalam tahap filsafat. Pada tahap filsafat, rasio sudah terbentuk, tetapi belum ditemukan metode berpikir secara obyektif. Rasio sudah mulai dioperasikan, tetapi kurang obyektif. Berbeda dengan pada tahap teologi, pada tahap filsafat ini manusia mencoba mempergunakan rasionya untuk memahami obyek secara dangkal, tetapi obyek belum dimasuki secara metodologis yang definitif.

Perkembangan alam pikiran manusia merupakan suatu proses, maka manusia tidak puas dengan pemikiran ini, sehingga berkembang ke dalam tahap positif atau tahap ilmu. Dalam tahap positif atau tahap ilmu ini, rasio sudah dioperasikan secara obyektif. Manusia menghadapi obyek dengan rasio.

Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa alam, misalnya gunung api meletus yang menimbulkan banyak korban dan kerusakan, manusia tidak lagi mengadakan selamatan dengan tari-tarian dan nyanyian, tetapi akan mengamati peristiwa itu, mempelajari mengapa gunung api itu dapat meletus, kemudian berusaha mencari penyelesaian dengan tindakan-tindakan yang sesuai dengan hasil pengamatannya. Misalnya, dengan mencegah terjadinya letusan yang hebat. Untuk mengurangi banyaknya korban, penduduk di sekeliling gunung api tersebut dipindahkan ke daerah lain. Inilah bukti bahwa manusia lama-kelamaan tidak puas dengan mitos sebagai pemikiran yang irasional, kemudian mencari jawaban yang rasional.

Pemecahan secara rasional berarti mengandalkan rasio dalam usaha memperoleh pengetahuan yang benar. Kaum rasionalis mengembangkan paham yang disebut rasionalisme. Dalam menyusun pengetahuan, kaum rasionalis menggunakan penalaran deduktif. Penalaran deduktif adalah cara berpikir yang bertolak dari pernyataan yang bersifat umum untuk menarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penarikan kesimpulan secara deduktif ini menggunakan pola berpikir yang disebut silogisme. Silogisme itu terdiri atas dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Kedua pernyataan itu disebut premis mayor dan premis minor. Kesimpulan atau konklusi diperoleh dengan penalaran deduktif dari kedua premis tersebut.

Dengan demikian, jelas bahwa penalaran deduktif ini pertama-tama harus mulai dengan pernyataan yang sudah pasti kebenarannya. Aksioma dasar ini yang dipakai untuk membangun sistem pemikirannya, diturunkan atau berasal dari idea yang menurut anggapannya jelas, tegas, dan pasti dalam pikiran manusia. Dengan penalaran deduktif ini dapat diperoleh bermacam-macam pengetahuan mengenai sesuatu obyek tertentu tanpa ada kesepakatan yang dapat diterima oleh semua pihak. Di samping itu juga terdapat kesulitan untuk menerapkan konsep rasional kepada kehidupan praktis.


Baca Juga Artikel Lainnya :