Rainbow Day Camp: Bermain dan Melepas Stigma di Kamp Anak-anak Transgender

Rainbow Day Camp: Bermain dan Melepas Stigma di Kamp Anak-anak Transgender

Banyak kamp musim panas di Amerika memusatkan kegiatan terhadap satu kegiatan saja, seperti baseball, komputer, atau menunggang kuda. Ada pula kamp-kamp bagi kelompok tertentu seperti kamp untuk siswa Yahudi atau Kristiani, atau kamp untuk siswa dengan autisme dan difabel. Sebuah kamp di California dikelola tertentu untuk kelompok yang mulai banyak jumlahnya yakni siswa transgender yang berusia empat hingga dua belas tahun.

Rainbow Day Camp Bermain dan Melepas Stigma di Kamp Anak-anak Transgender

Sebagian pakar menyatakan perkembangan cepat kamp-kamp seperti ini mencerminkan peningkatan dramatis jumlah anak yang “sedang mengalami transisi sosial” terhadap umur lebih muda di Amerika.

Rainbow Day Camp mengajak siswa beristirahat sejenak dari kegiatan akademis sekolah, dan termasuk stigma yang tersedia di sedang masyarakat sebagai kelompok berbeda.

Siswa umur empat hingga dua belas th. yang tersedia di kamp ini adalah transgender. Mereka memakai kata ganti sebagai pilihan dan berjumpa dengan transgender lain remaja atau dewasa, termasuk banyak pembimbing di kamp. Diantaranya adalah Andrew Kramer, Direktur Rainbow Day Camp.

“Mereka mengikuti minat kreatif mereka dan tidak kudu mulai stress atau bingung dikarenakan dipandang sebagai “kelompok berbeda”. Mereka mampu menjadi kelompok independent yang paling otentik dan membangun komunitas dengan orang lain yang paham pengalaman hidup yang sama,” kata Andrew.

Kebutuhan masyarakat untuk punyai kamp semacam inilah yang mengilhami Sandra Collins untuk memulai kamp ini dua th. lalu.

“Saya biasanya menyatakan kamp ini dibangun dikarenakan kesedihan, dikarenakan pengalaman. Tetapi seorang kawan mendorong aku untuk membentuk kamp ini berdasarkan cinta kasih, menjadikan kamp ini sebagai daerah yang safe bagi anak aku dan termasuk anak-anak lain yang seperti dia,” ujar Sandra.

Semakin banyak anak “seperti putri” Sandra Collins di Amerika, yang tidak kembali mengherankan psikolog perkembangan tingkah laku di UCSF Child & Adolescent Gender Center Clinic, Diane Ehrensaft.

“Kami berharap seorang anak berusia dua th. telah paham apakah “ia laki-laki” atau “ia perempuan”. Jadi kami tidak mampu langsung berharap anak transgender paham gender mereka sebagaimana anak-anak yang bukan transgender,” kata Diane.

Molly Maxwell menyatakan hal ini yang terjadi dikala anaknya tetap balita.

“Ketika putri aku mulai belajar berkata dan bersuara, ia selalu berkeras bahwa ia bukan laki-laki, ia adalah perempuan dan inginkan dipanggil sebagai seorang anak perempuan,” cerita Molly.

Studi yang dirilis th. ini membuktikan bahwa memperbolehkan transisi sosial ini mampu punyai efek positif terhadap kesegaran mental anak-anak. Ibunda James Kaplan tidak menyesal telah memperbolehkan anaknya melaksanakan transisi ini.

“Saya berduka dengan kehilangan putri saya, namun terhadap sementara sejalan aku menyambut kedatangan putra aku dan inginkan mengetahuinya. Segera sesudah ia melaksanakan transisi, ia menjadi lebih senang, lebih yakin diri, lebih gembira,” tutur Sara Kaplan. https://www.ruangguru.co.id/

Enam puluh anak di Rainbow Day Camp terhadap musim panas ini tentu saja termasuk lebih gembira.

“Saya inginkan menjadi siapa aku sebenarnya, bukan sebaliknya,” kata Scarlett Reinhold