Cara Menanggapi Debat di Media Sosial

Cara Menanggapi Debat di Media Sosial – politik ialah “tahun panas”. Dan nampaknya sejak pemilihan gubernur DKI, masing-masing tahun menjadi tahun politik. Perdebatan di sosial media tidak jarang kali panas, tetapi tidak pernah sepanas bulan-bulan belakangan menjelang pemilihan presiden.

Kata-kata konfrontatif laksana “goblok”, “bakar”, “bangsat”, “sontoloyo”, “tolol”, “bajingan”, “bunuh”, dan lain-lain membanjir lini masa sosial media kita. Bahkan fauna yang tak bersalah sama sekali laksana anjing dan babi,terseret-seret mulut dan ibu jari manusia yang tidak dapat menahan nafsu marahnya di status-status dan komentar-komentar.

Siapapun tercebur mulai anak sekolah hingga profesor, dari guru sekolah hingga anggota DPR. Pria, wanita, besar, kecil, miskin, kaya, pengangguran, pensiunan, artis, mantan artis, karyawan, wiraswasta, ASN, dosen, semuanya laksana tersihir keganjilan Whatsapp, Twitter, Instagram, dan Facebook guna menumpahkan sumpah serapahnya. Tentu saja tergolong saya.

Isu agama gampang bangkitkan emosi

Harus diakui, susah untuk tidak terprovokasi status-status bersliweran masing-masing detik. Jempol ini tidak jarang kali bernafsu komentar, berdebat dan berkelahi. Karena berduel di sosial media tidak punya konsekuensi fisik, tidak perlu menyaksikan wajah marah lawan debat.

Berbeda bila debat beneran, atau berduel beneran. Seperti provokator yang saya jumpai hari Kamis minggu yang lalu. Orang tidak punya nyali pun laksana singa atau harimau di dinding facebook.

Begitu ditantang ngobrol langsung tiba-tiba bungkam. Situasi semacam ini dengan mudah ditunggangi semua petualang politik yang menghalalkan segala teknik demi kursi kekuasaan.

Mulai dari isu PKI, segala macam hoax, dan yang terakhir pembakaran bendera. Kenapa nyaris semua isu berhubungan agama? Karena isu ini sensitif dan sangat mudah membangunkan emosi.

Eksploitasi identitas kelompok

Cherian George, dalam bukunya “Hate Spin” atau diterjemahkan menjadi Pelintiran Kebencian menegaskan “penghinaan dan ketersinggungan yang sengaja diciptakan,dan dipakai sebagai strategi politik yang mengeksploitasi identitas kumpulan guna memobilisasi penyokong dan mengurangi lawan.”

Nampaknya cara-cara demikian ada kesamaan dengan yang terjadi di Indonesia. Agen-agen kebencian diciptakan, buzzer-buzzer politik berlahiran dengan nilai kontrak ratusan juta.

Itu benar terjadi sekarang, di dekat kita. Ketika akun-akun palsu, agak palsu, maupun yang pribumi di sosial media menebarkan tautan-tautan provokasi. Mereka semua buzzer berpesta. Sementara korbannya berduel satu sama lain, saling membenci satu sama lain.

Lalu bagaimana menghentikannya? Menegakkan keadilan? Keadilan tidak bakal tegak melulu dengan mengkoarkan status. Berdasarkan keterangan dari saya, tidak usah bercita-cita dengan sesuatu di luar diri kita.

Mulai dari diri sendiri

Harus mulai dari diri sendiri, mesti mulai dari hal-hal sederhana, yang kecil-kecil bila kata Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym. Penulis “Seven Habits of Highly Effective People”, Stephen Covey menyarankan mengolah situasi, mesti mulai dari urusan yang dapat kita pengaruhi, alias mulai dari diri sendiri.

Berdasarkan keterangan dari Michael Mascolo, profesor psikologi dari Merrimack College, Massachusetts, Amerika Serikat. Kebencian tidak bisa dipadamkan dengan kebencian yang lain. Api tidak bakal dapat padam dengan menyalakan api yang lain.

Jadi, bagaimana usahakan menanggapi provokasi? Pertama lihat dulu siapa memprovokasi. Tidak terdapat gunanya menanggapi akun abal-abal, contohnya akun Facebook isinya hanya tautan ujaran kebencian.

Hanya mempunyai “friends” paling minim. Bisa jadi tersebut akun kloning yang dipakai buzzer politik memviralkan isu. Ketika telah yakin akun yang anda ajak ngobrol bukan akun palsu, punya empunya benar-benar ada, baru obrolan dapat dilanjutkan.

Ajang debat kusir

Seperti ilustrasi inilah ini :
Bona (bukan nama sebenarnya): Sebenarnya paling disayangkan terdapat aksi pembakaran bendera itu. Banser salah. Tapi tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Mereka menghanguskan bendera organisasi terlarang yang diacung-acungkan di depan hidung mereka.

Tentu kita bercita-cita kasusnya bakal segera jelas, pihak berwajib pun sudah menyelamatkan pelakunya. Hati-hati, ini isu sensitif tidak boleh mau diadu domba.

Rong-Rong (juga bukan nama sebenarnya): Lho, kamu tersebut gimana? HTI tidak punya bendera. Itu bendera tauhid! Mereka melecehkan Islam! Kemana Banser saat kami membela ulama? Mereka banyak sekali malah mengawal tempat ibadah agama lain! Update informasi dong, tidak boleh sok netral!

Rong-rong merespon dengan emosional, tidak dalam konteks yang cocok dengan yang dikatakan Bona. Justru menyerang pendapat Bona yang dengan gegabah dirasakan “membela” Banser. Obrolan lantas menjadi tidak efektif dan berpotensi menjadi ajang debat kusir. Rong-rong menekankan pemikiran “kami versus mereka”.

Otak berhenti beranggapan kritis

Berdasarkan keterangan dari https://www.bahasainggris.co.id Prof. Mascolo, serangan personal semacam ini merusak inti diskusi yang hendak dibangun Bona, bahkan menuding Bona tidak peduli dengan agamanya sendiri. Tentu saja urusan ini dapat memprovokasi Bona dan melupakan bangunan diskusi yang hendak dibangun di awal.

Bona: Justru HTI yang membajak kalimat tauhid dalam benderanya, seperti pun ISIS, Al-Nusra, mereka mensponsori penentangan di Suriah, di Irak, di Yaman. Yang ada melulu kehancuran. Makanya banyakin baca dong! Jangan hanya baca link ga jelas!

Pada titik ini, diskusi sebetulnya sudah tidak terdapat gunanya. Serangan personal membuat pribadi semakin defensif, semakin emosional. Ketika tersebut terjadi. benak berhenti beranggapan kritis, yang berfungsi ialah amygdala.

Amygdala ialah bagian benak paling primitif, yang pola pikirnya ialah flight (lari) atau fight (berantem) saat menghadapi ancaman. Seperti benak rusa atau zebra yang menyaksikan predator.

Menang tanpa menyakiti

Kita mesti menghadapi kebencian dengan keinginan untuk melihat mengapa seseorang membenci sesuatu, apa motifnya. Untuk mengarah ke ke sana tidak dapat dilakukan tanpa mengawal hubungan personal. Misalnya dengan menawarkan suatu pertanyaan terbuka.

Bona: Sebenarnya paling disayangkan terdapat aksi pembakaran bendera itu. Banser salah. Tapi menurutku tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Mungkin anda punya pendapat lain. Bagaimana menurutmu Rong-rong? Apakah ada teknik supaya anda tidak diadu domba?

Kita dapat perhatikan, pelajaran ingin dikatakan Bona sebetulnya sama, tapi metodenya berbeda. Bona menanyakan pada Rong-rong dengan memposisikan sebagai orang sejajar. Tidak lebih tahu.

Dari sana diinginkan Bona lebih tahu apa yang dipikirkan Rong-rong. Meski dua-duanya tidak saling setuju. Tapi paling tidak dua-duanya setuju guna tidak saling setuju. Sehingga diskusi tidak terperosok menjadi konflik tidak perlu.

baca juga: Cara Ini Dilakukan Untuk Mendorong Minat Riset Mahasiswa