Apakah Tsunami Selat Sunda Merupakan Volcanogenic Tsunami

Apakah Tsunami Selat Sunda Merupakan Volcanogenic Tsunami

 

Apakah Tsunami Selat Sunda Merupakan Volcanogenic Tsunami

 

DISDIK JABAR- Beberapa waktu lalu

beberapa daerah di pesisir Selat Sunda terkena dampak Tsunami dengan ketinggian gelombang rendah yang beragam dan datang secara tiba-tiba. Tsunami datang tiba-tiba tanpa disertai dengan gempa terlebih dahulu atau tanda-tanda tsunami lainnya. Berbagai pihak menyimpulkan, datangnya tsunami tersebut diakibatkan oleh aktifitas gunung Anak Krakatau. Akan tetapi, diperlukan penelitian lebih lanjut buat memastikan penyebab utama Tsunami di Selat Sunda.

Seperti yang dirilis oleh Volkanolog ITB

Dr. Mirzam Abdurrachman ST,MT, suatu gunung yang terletak di tengah laut seperti halnya Anak Krakatau atau yang berada di pinggir pantai, sewaktu-waktu sangat berpotensi menghasilkan Volcanogenic Tsunami. Apalagi, aktifitas Anak Krakatau terus menggeliat akhir-akhir ini. Tercatat lebih dari 400 letusan kecil terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Letusan besar terjadi pukul 18.00 dan terus berlanjut hingga pagi ini dan terdengar hingga Pulau Sebesi yang berjarak lebih dari 10 km arah timur laut seperti di laporkan tim patroli.

Volcanogenis Tsunami

Volcanogenis Tsunami bisa terbentuk karena perubahan volume laut secara tiba-tiba akibat letusan gunung api. Ada empat mekanisme yang menyebabkan terjadinya volcanogenic tsunami, pertama, kolapnya kolom air akibat letusan gunung api yang berada di laut, mudahnya seperti meletuskan balon pelampung di dalam kolam yang menyebabkan riak air di sekitarnya.

Kedua, pembentukan Kaldera akibat letusan besar gunung api di laut menyebabkan perubahan kesetimbangan volume air secara tiba-tiba. Menekan gayung mandi ke bak mandi kemudian membalikannya adalah analogi pembentukan kaldera gunung api di laut.

Ketiga, terjadi longsor

Material gunung api yang longsor bisa menyebankan memicu perubahan volume air di sekitarnya. Tsunami tipe ini pernah terjadi di Mt. Unzen Jepang 1972, banyaknya korban jiwa saat itu hingga mencapai 15.000 jiwa disebabkan karena pada saat yang bersamaan sedang terjadi gelombang pasang.

Keempat, aliran piroklastik atau orang terkadang menyebutnya wedus gembel yamg turun menuruni lereng dengan kecepatan tinggi saat letusan terjadi, bisa mendorong muka air jika gunung tersebut berada di atau dekat pantai. Tsunami tipe ini pernah terjadi saat Mt. Pelee, Martinique meletus pada 8 Mei 1902. Saat aliran piroklastik Mt. Pelle yang meluncur dan menuruni lereng akhirnya sampai ke Teluk Naples, mendorong muka laut dan menghasilkan tsunami.

Mekanisme satu dan dua pernah terjadi pada letusan Krakatau, tepatnya 26-27 Agustus 1883. Tsunami tipe ini seperti tsunami pada umumnya didahului oleh turunnya muka laut sebelum gelombang tsunami yang tinggi masuk ke daratan. Volcanogenic tsunami akibat longsor atau pun aliran piroklastik umumnya akan menghasilkan tinggi gelombang yang lebih kecil dibandingkan dua penyebab sebelumnya, namun bisa sangat merusak dan berbahaya karena tidak didahului oleh surutnya muka air laut.

 

Sumber : https://pendidikan.co.id/