Ketika Pelajar Menjadi Anggota Dewan

Ketika Pelajar Menjadi Anggota Dewan

 

Ketika Pelajar Menjadi Anggota Dewan

Suasana sidang di Gedung Nusantara I DPR berjalan tertib

Tak ada suara yang terdengar selain dari ketua sidang dan anggota sidang yang mewakili suara fraksinya. Agenda sidang hari itu adalah pembicaraan tingkat dua terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) terhadap Undang-Undang (UU) nomor 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik.

Setelah beberapa fraksinya menyampaikan suaranya

tiba bagi Aldhis selaku perwakilan dari fraksi Tarumanegara Dapil Jabar untuk menyampaikan hasil permusyawarahan fraksinya.  “Sesuai subtansinya, kami selaku fraksi mendeklarasikan bahwa kita disini tidak menyetujui perlunya memberi kewenangan kepada pemerintah untuk melakukan pemutusan akses tanpa harus meminta ijin pengadilan,” ucap Aldhis lantang, sambil menatap lembar laporan di atas mejanya.

Dia pun menjabarkan penguatan-penguatan dari keputusan yang diambil oleh fraksinya

Tak ada perhatian yang terbagi. Semuanya fokus mengikuti jalannya sidang dan memerhartikan para anggota dewan yang berbicara.

Itulah suasana simulasi sidang yang merupakan rangkaian kegiatan Parlemen Remaja 2018 yang diselenggerakan oleh Sekretatiat Jendral dan Badan Keahlian Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (SETJEN dan BK-DPR RI), 17-22 September 2018 lalu. Acara tersebut diikuti oleh 124 siswa terpilih se-Indonesia dari total 3814 pendaftar.

Deputi Persidangan Setjen DPR RI

Damayanti mengatakan, para remaja ini akan melakukan simulasi sidang sebagai pembalajaran tentang tugas dan fungsi seorang anggota dewan. “Anggota DPR itu kan pekerjaannya rapat, rapat dan rapat. Ini yang harus disampaikan tentang bagaiman tata cara persidangan yang bagus, bagaimana berbicara dengan efektif efisien, harus mengahrgai pendapat orang, bagaimana mengambil keputusan. Karena itu adalah rules of the game dari suarta rapat,” ungkap Damayanti dilansir dari warta parlemen.

Pentingnya Literasi Politik

Salah satu peserta, Aldhis Moch Sawajawandi menilai, kegiatan tersebut penting untuk diketahui oleh pelajar dalam proses literasi politik. “Kalau dilihat dari urgensinya sih sangat penting. Pengetahuan tentang politik yang selama ini dipelajari dalam kurikulum pendidikan dirasa belum cukup untuk menjadikan generasi muda sebagai generasi emas,” ucap siswa SMAN 1 Cisarua.

Hal senada pun diucapkan oleh Muhammad Taufik. Siswa SMAN 5 Karawang tersebut menuturkan, mendapatkan banyak pemahaman baru tentang parlemen di Indonesia. “Kita jadi tahu fungsi dan mekanisme sidang dan struktur organisasi DPR RI. Ini juga menjadi penting buat kami, jangan sampai karena tidak adanya edukasi (literasi politik) menjadikan pelopor pembangun negeri hilang karena ketidaktahuan tentang ilmu politik ini,” katanya.

Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan, Tya Rahamawati Sakinah mengatakan, literasi politik bagi siswa menjadi penting karena politik mengatur kehidupan sehari-hari. “Jadi dengan banyak membaca dan mengikuti kegiatan tersebut, siswa mendapatkan informasi yang luas dan pengetahuan tentang politik,” tutur Tya saat dihubungi via daring.

Guru SMAN 5 Karawang tersebut pun mengutip perkataan Berthold Brecht, penulis dari Jerman yang berkata tentang bahayanya buta politik. “Buta yang terburuk adalah buta politik, dia tidak mendengar, tidak berbicara, dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.

 

Artikel terkait: