Sisi Gelap Globalisasi

Sisi Gelap Globalisasi

Sisi Gelap Globalisasi
Sisi Gelap Globalisasi

a. Globalisasi sebagai Kapitalisme Kasino

Dalam globalisasi, sektor finansial berarti bahwa perekonomian dikendalikan oleh para spekulan pasar uang dan pasar modal. Seolah-olah mereka berperan sebagai hakim bagi kebijakan ekonomi nasional yang tidak mendukung pasar dunia. Para Investor akan mudah lari untuk memindahkan modal investasinya ke negara yang aman untuk penanaman modal.

b. Globalisasi Antarnegara

Kenichi Ohmae dalam bukunya “The End of The Nation State” disebutkan peran negara atau pemerintah sebagai mesin pencipta atau pendistribusian kemakmuran akan semakin berkurang. BUMN yang semula sebagai alat kendali pemerintah terhadap sektor-sektor ekonomi yang penting, strategis, dan menguasai hajat hidup orang banyak beralih ke sektor swasta yang bermodal kuat.

c. Globalisasi sebagai Kompetisi Menghancurkan

Dalam hal ini, perusahaan-perusahaan yang paling efisien dan mampu menawarkan produk-produk bermutu dan melaksanakan pelayanan purnajual yang prima dapat memenangkan kompetisi.

d. Globalisasi sebagai Penyebab Pengangguran

Akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, timbul pengurangan biaya-biaya perunit produksi. Selanjutnya, hal itu bisa mengalami peningkatan drastis, sedangkan jumlah pekerjaan berkurang tajam. Dengan demikian, terjadi perpindahan tenaga kerja antarnegara secara bebas. Suatu ancaman bagi tenaga kerja di negara-negara sedangkan berkembang karen muncul pesaing-pesaing dari negara maju. Begitu juga ancaman bagi negara-negara maju, ancaman tenaga kerja murah muncul dalam skala besar dari negara berkembang. (https://bandarlampungkota.go.id/blog/jenis-jaringan-tumbuhan-dan-fungsinya/)
 

e. Globalisasi Merugikan Negara Dunia Ketiga

Dana pinjaman IMF mensyaratkan kebijakan-kebijakan yang mengharuskan negara pro pasar negara peminjam tanpa memandang golongan masyarakat pedesaan atau perkotaan. Segalanya harus beli atau sewa baik bahan bakar, listrik, parkir, ataupun air minum.

f. Globalisasi sebagai Individualisme yang Berlebihan

Para era globalisasi yang dijunjung tinggi adalah kemampuan dari setiap dan kompetisi individualisme sehingga mengabaikan solidaritas sosial. Antaramasyarakat bersikap masa bodoh, antisosial, atau tidak rasa kesetiakawanan sosial.

g. Globalisasi sebagai Imperialisme Budaya

Sikap individualisme, masa bodoh, atau mengabaikan solidaritas sosial merupakan bukan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, adanya globalisasi dapat dianggap sebagai penyakit budaya yang mewabah sehingga mudah menularkan budaya-budaya asli bangsa.
 

h. Globalisasi Menyebabkan Munculnya Gerakan-Gerakan Neo-Nasionalis dan Fundamentalis

Gerakan aksi brutal atau protes dalam berbagai bentuk dan tuntutan yang ramai di setiap negara merupakan tanda-tanda dari penolakan, masyarakat dunia yang tersisih dalam terkalahkan oleh proses globalisasi. Misalnya, peristiwa peledakan WTC di Amerika Serikat ataupun gerakan protes, atas aksi penyerangan AS terhadap Afghanistan.