Status Awas Gunung Agung, Kemenpar Bentuk Crisis Center

Status Awas Gunung Agung, Kemenpar Bentuk Crisis Center

Status Awas Gunung Agung, Kemenpar Bentuk Crisis Center
Status Awas Gunung Agung, Kemenpar Bentuk Crisis Center

BANDUNG-Pasca penetapan status Awas di Gunung Agung, Karangasem, Bali, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) telah memimpin pembentukan #BaliTourismHospitality, berkoordinasi dengan pelaku pariwisata di Bali. Tim ini untuk memberi informasi kepada pelaku pariwisata ini sudah mulai berjalan sejak minggu lalu.

“Yang pertama kita harus menimbulkan rasa aman buat masyarakat sekitar Gunung Agung. Begitu juga untuk wisatawan, customer kita, segala sesuatunya sudah disiapkan untuk keamanan mereka juga,” jelas Menpar Arief Yahya dalam keterangan resminya di Bandung, Sabtu (6/10/2017)

Selain itu, Menpar juga mengganti istilah “evakuasi” dengan “mengantarkan.” Untuk memberi aksen pariwisata. “Biar tidak berkesan serem. Kita semua bergerak, dan mempersiapkan segala risiko yang bisa terjadi,” ungkap Arief

Dalam peninjauannya ke Pura Besakih, Menpar Arief Yahya berdiskusi dengan tim Basarnas yang

bertugas, masyarakat Bali, dan Wisman yang berkunjung ke Pura Besakih. Di Pura Besakih sendiri sedang ada acara Sembahyang Purnama oleh masyarakat, pada hari itu untuk doa keselamatan bagi seluruh masyarakat Bali.

“Kami berharap semua dampak dapat diminimalisasi, utamanya yang berdampak pada sektor Pariwisata di Tanah Air,” harap Arief

Menpar Arief Yahya pun meminta masyarakat agar mengikuti setiap imbauan yang dikeluarkan lembaga pemerintah yang berwenang. Sedangkan untuk wisatawan, Menpar menyampaikan pesan agar tidak khawatir karena pemerintah sudah mempersiapkan rencana penanganan terhadap segala kemungkinan bencana.

“Crisis center-nya sudah dibuat diketuai oleh Pak Gubernur Bali. Karena ini di Bali, ikon

pariwisata Indonesia, maka istilah Crisis Center itu diganti dengan Bali Tourism Hospitality. Harus satu pintu (informasinya). Beritanya nggak boleh simpang siur,” kata Menpar Arief Yahya

Soal Amenitas, Menpar berkoordinasi dengan PHRI dan industri pariwisata untuk menyiapkan diskon khusus pada wisatawan yang terpaksa harus tinggal lebih lama karena bandara off. “Sedang disiapkan skenario, hari pertama diskon 100-80%, lalu diskon diturunkan secara bertahap,” jelas Arief Yahya.

Soal Atraksi, Menpar Arief meminta hotel, bandara di Lombok, pelabuhan, dan lokasi

pengungsian untuk disiapkan hiburan. Biar mereka merasa nyaman, selama masa erupsi.

“Ikuti saran dan anjuran pemerintah, itu yang terbaik,”pungkasnya. (MAT)

 

Sumber :

http://sitialfiah.blogs.uny.ac.id/contoh-surat-kuasa-limpahan/