Uji publik kurikulum baru di Sulut

Uji publik kurikulum baru di Sulut

Uji publik kurikulum baru di Sulut
Uji publik kurikulum baru di Sulut

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memulai uji publik kurikulum baru di daerah yang indeks pembangunan manusia (IPM)-nya tinggi.

Mendikbud Mohammad Nuh mengatakan, tempat uji publik yang pertama kali dituju ialah di Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Sulut dipilih karena mempunyai IPM yang tertinggi kedua setelah Jakarta.

Pencapaian IPM yang bagus ini, kata dia, mustahil dapat diraih jika kualitas pendidikannya rendah. Tempat uji publik sendiri dipilih di Universitas Negeri Manado (Unima) dimana kebanyakan pesertanya ialah guru.

Dalam sesi tanya jawab kebanyakan para guru penasaran

apakah pemerintah sudah menyiapkan sarana prasarana serta sumber daya manusia terutama tenaga pendidik untuk laboratorium dan fasilitas didalamnya.

Keduanya penting karena kurikulum baru nantinya akan mengubah pola belajar yang tadinya diberi tahu sekarang menjadi aktif untuk mencari tahu akan suatu pertanyaan. Cara yang dipakai kebanyakan dengan praktek di laboratorium.

Mantan menkominfo ini menerangkan, pada prakteknya tenaga pendidik yang membina laboratorium pasti akan ditambah tidak hanya dari kuantitas namun juga kualitas. Seiring dengan itu, jelasnya, pihaknya akan menyediakan anggaran utuk membeli fasilitas laboratorium yang
diperlukan.

“ Kami tidak bisa bekerja sendirian untuk menyediakan sarana dan SDM ini. maka begitu usai dari acara ini secepatnya kami akan berkoordinasi dengan pemerntah daerah,” katanya berdasarkan siaran pers yang diterima SINDO, Minggu 25 November 2012.

Pada kurikulum baru nanti, ujarnya

, guru dituntut harus lebih kreatif dalam mengajar karena silabus kurikulum pemerintah ingin menjadikan siwa itu kreatif.

Mantan menkominfo ini menambahkan, ada enam mata pelajaran yang akan diajarkan di SD. Yaitu Bahasa Indonesia, PPKn, Agama, Matematika, dan muatan lokal yang dibagi dua yaitu prakarya dan pendidikan jasmani dan olahraga kesehatan.

Dalam enam mata pelajar yang terintegrasi secara tematik ini, siswa tidak perlu lagi membawa puluhan buku ke sekolah setiap harinya. Ada integrasi pembelajaran di dalamnya. Setiap apa yang dilihatnya akan menjadi bahan belajarnya, dan menjadikan guru bukan satu-satunya sumber belajar.

Sementara untuk mata pelajaran di SMP

yakni dengan meminimumkan jumlah mata pelajaran dari 12 dikurangi menjadi 10 melalui pengintegrasian beberapa mata pelajaran. Integrasi mata pelajaran itu seperti Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) menjadi sarana pembelajaran
pada semua mata pelajaran, tidak berdiri sendiri, Muatan lokal menjadi materi pembahasan Seni Budaya, Prakarya dan Budidaya dan Mata pelajaran Pengembangan Diri diintegrasikan ke semua mata pelajaran.

Sementara untuk IPA dan IPS dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science dan integrative social studies, bukan sebagai pendidikan disiplin ilmu. Dia menjelaskan, keduanya sebagai pendidikan berorientasi aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan
belajar, rasa ingin tahu, dan pembangunan sikap peduli dan bertanggung jawab terhadap lingkungan alam dan sosial.

 

Sumber :

https://blogs.uajy.ac.id/teknopendidikan/habitat-tumbuhan-paku/