Metode Membaca Dengan Mata Tertutup

Metode Membaca Dengan Mata Tertutup

Metode Membaca Dengan Mata Tertutup
Metode Membaca Dengan Mata Tertutup

Metode membaca dengan mata tertutup

atau yang sering disebut blind fold reading mulai merebak di Indonesia pada bulan Oktober 2009. Terlepas dengan segala bentuk ragam pola pengajarannya dan hasilnya, metode ini memberikan dampak yang positif untuk dunia pendidikan. Salah satunya adalah meningkatkan konsentrasi dan mengoptimalkan daya imajinasi.

 

Beberapa cara yang beragam diajarkan sebenarnya

memiliki core yang sama, yaitu meningkatkan kemampuan reseptor (selain mata) untuk menangkap atau mengidentifikasi benda disekitarnya. Reseptor yang dioptimalkan selain audio (pendengaran) juga rasa. Dengan musik klasik atau jazz, resopter yang mengidentifikasi rasa tertentu bisa dimunculkan. Selain musik tersebut, ada juga teknologi mindsound yang bisa mengoptimalkan fungsi reseptor yang sering disebut Binaural Beat Frequency.

 

Seperti yang telah diakui lembaga sains

dan penelitian tentang otak (dimana reseptor digerakkan olehnya), suara memiliki pengaruh besar terhadap kinerja otak, contohnya efek musik klasik dan jazz terhadap otak dan psikologi manusia.

 

Lembaga atau penyelenggara pelatihan

yang menggunakan metode membaca dengan mata tertutup di Indonesia sudah cukup banyak. Ada yang membatasi dengan usia tertentu, tetapi ada juga yang menyelenggarakan tanpa terikat batas usia.

 

Salah satu orangtua yang telah mengikutkan anaknya yang berusia 14 tahun pada pelatihan ini menyatakan puas dengan hasil yang terlihat pada hari ketiga. Demikian halnya salah satu pebisnis ibukota merasakan teknologi mindsond dan metode ini memberikan dampak peningkatan pada kinerjanya. Bagi masyarakat Indonesia yang merasa jenuh dengan pola pembelajaran, metode ini bisa digunakan sebagai alternatif untuk mengatasinya.

 

 

Penemuan tentang Struktur Otak dan Fungsinya
Otak merupakan struktur yang terdiri dari tiga lapisan. Seorang ahli fisiologi saraf Amerika bernama Dr. Paul D. Mc Clean mengajukan konsep triune otak di tahun 1970. Irisan vertikal dari otak menampakkan ketiga bagian tersebut.

Batang otak (otak reptil) di bagia bawah, sistem limbik (otak mamalia tua) di bagian tengah, dan neokorteks (otak primata) di bagian atas. Setiap lapisan dari sistem otak triune memiliki tiga jenis fungsi dan tiga jaringan informasi.

Otak reptil memiliki saluran ke kemampuan telepati dan otak mamalia memiliki saluran yang mengirimkan informasi sebagai imaji visual.

Lapisan terluar dari neokorteks (otak primata) dibagi menjadi hemisfer otak kanan dan kiri. Jaringan penghubung yang menggabungkan otak kanan pada lapisan lebih dalam yang membuat fungsi telepati dan imajinasi terbuka. Tetapi otak kiri tidak memiliki jaringan penghubung seperti ini. Hemisfer otak kiri adaah otak bahasa, sementara hemisfer kanan adalah otak imaji. Itu sebabnya cara mempersepsikan sesuatu dan cara berpikirnya sangat berbeda. Otak kanan berpikir dan memahami dengan gambar, sementara otak kiri berpikir dalam kata.

Fungsi memori dari keduanya juga berbeda. Memori otak kiri berdasarkan bahasa, sementara memori kanan berdasarkan imaji. Otak kiri dianggap menjalankan fungsi logika dan kanan menjalankan fungsi emosional.

Cara kerja dari indera kita juga berbeda dari satu hemisfer ke hemisfer yang lainnya. Indra dari otak kiri berupa fisik dan tergantung pada mata, hidung, mulut, telinga dan kulit. Sedangkan indra otak kanan tidak tergantung kepada panca indra tersebut, dan mampu menerima getaran dari luar (ekternal) yang tidak terlihat oleh mata. Getaran tersebut kemudian diterjemahkan oleh otak kanan menjadi imaji supaya bisa dipahami dengan cepat.

Keberadaan dari persepsi ekstra sensori (di luar indra) yang tidak tergantung pada panca indra kini telah diterima oleh umum. Persepsi ekstra sensori tersebut merupakan lima indra otak kanan.

Baca Juga :