Agresi Militer Kedua dan Konferensi Antar Indonesia

Agresi Militer Kedua dan Konferensi Antar Indonesia

Selamat berkunjung di Situs Pelajaran Oke, yang tetap mengupas bermacam ulasan terlebih sejarah-sejarah di Indonesia dan pada peluang ini Situs Pelajaran Oke bakal mengupas berkenaan “Agresi Militer Kedua dan Konferensi Antar Indonesia”. Tanpa berlama-lama marilah kita liat ulasan berikut.

Agresi Militer Kedua dan Konferensi Antar Indonesia

Belanda, pada tanggal 18 Agustus Desember 1948 melancarkan agresi militer kedua, yang merupakan bencana militer maupun politik baginya, samasekali pada tataran permukaan muncul ia bersama dengan gampang mendapatkan kemenangan.

Yogyakarta tanggal 19 Desember diduduki dan para pemimpin RI seperti Bung Karno, Bung Hatta, Sultan Syahir, Muhammad Natsir dan Haji Agus Salim di tangkap. Dengan Agresi itu Belanda sanggup menguasai kota-kota besar di Jawa dan Sumatera, dikarenakan bala tentara RI mengundurkan diri dan laksanakan perang gerilya.

Agresi militer Belanda sudah menyinggung Dewan Keamanan PBB dan hal itu amat diharapkan Pemerintah RI. Pemerintah Belanda sendiri kelanjutannya menyesali agresi itu, dan sehabis opini dunia terlebih Amerika Serikat mencela keras tindakan itu.

Akhirnya pada Bulan Januari 1949 Dewan Keamanan PBB menuntut pembebasan seluruh bagian kabinet RI yang ditahan Belanda, pembentukan suatu pemerintahan sementara, dan pengakuan kedaulatan Indonesia. Tanggal 7 Mei Belanda menyepakati kembalinya pimpinan RI ke Yogyakarta, dimulainya suatu gencatan senjata pada Belanda dan RI. Belanda juga berjanji menghentikan pembentukan negara-negara bonekanya.

Tanggal 6 Juli 1949 Bung Karno, Bung Hatta dan bagian kabinet RI lainnya lagi ke Yogyakarta. Kemudian tanggal 1 Agustus, genjatan senjata pada RI bersama dengan Belanda diumumkan. Sebelum pengumuman itu, Tentara Nasional Indonesi berhasil merebut lagi beberapa area di Jawa dan Sumatera.

Dimulai dari kembalinya para pimpinan RI ke Yogyakarta, suatu perundingan dikerjakan di Yogyakarta, terasa 19 sampai 22 Juli 1949 pada BFO dan RI yang di kenal sebagai Konferensi Antar Indonesia. BFO adalah organisasi negara-negara bagian bentukkan van Mook yang didalam bulan Juli 1948 seluruhnya berjumlah 15 negara bagian. BFO diketuai Sultan Hamid Alqadri dari Negara Bagian Pontianak.

Konferensi Antar Indonesia di Yogyakarta itu kelanjutannya memutuskan hal berikut;
Nama negara federal yang bakal dibentuk adalah Republik Indonesia Serikat (RIS)
RIS bakal punya perwakilan bersama dengan proses bikameral (dua kamar, senat, dan DPR)
Akan di wujud pemerintahan federal waktu yang terima kedaulatan dari Belanda
Angkatan perang RIS bakal di wujud berintikan TNI

Tanggal 30 Juli 1949, Konferensi Antar Indonesia diadakan lagi bersama dengan menyita area di Jakarta. Dalam konferensi itu, RI dan BFO setuju membentuk Panitia Persiapan Nasional pemilihan bagian delegasi NIT (Negara Indonesia Timur) yang bakal duduk sebagai delegasi BFO didalam KMB, Mononutu terpilih sebagai salah satu anggotanya.

Di samping itu, di NIT kabinet Anak Agung jatuh dan digantikan J.E. Tatengkeng sebagai Perdana Menteri. Dalam kabinet J.E. Tatangkeng, Jabir Syah Sultan Ternate dan Residen Maluku Utara diangkat sebagai Menteri Dalam Negeri. Jabatan Residen Maluku Utara yang ditinggalkan Jabir Syah sesudah itu dipegang oleh Sultan Tidore, Zainal Abidin Syah.

Kemudian di Ternate, PI dan PIM (Partai Indonesia Merdeka) mengusulkan kepada Pemerintahan NIT meninjau lagi politik yang dikerjakan sepanjang ini didalam hadapi pembentukan RIS pada tanggal 1 Januari 1950. PI didalam hubungannya bersama dengan hal itu, menghendaki sehingga kedudukan dan peran dari NIT didalam BFO ditingkatkan fungsi hadapi perundingan bersama dengan Belanda.

Nampaknya usulan itu mendapat tanggapan baik maupun pemberian dari BNI Manado, pimpinan Dauhan, dan GERPINDO Gorontalo, pimpinan Bokings.

Laporan Residen Maluku Utara yang tertanggal 16 Desember 1948 ditandatangani Sekertaris Residen, A. B. Faber, yang mengevaluasi suasana politik di kawasan berikut memberikan bahwa kesusahan terbesar di area berikut yakni eksis sehubungan bersama dengan pemberitaan-pemberitaan koran PI, Menara Merdeka, yang amat berorientasi ke Yogyakarta.

Dan pengaruh pemberitaan koran itu di Ternate dan sekitarnya demikian besar, sehingga Pemerintahan sukar menetralisasinya. Reduktur Menara Merdeka, M. S. Jahir, yang juga merupakan salah satu pimpinan PI, sudah di panggil dan diberi peringatan keras atas pemberitaan korannya.

Laporan Residen Maluku Utara lebih jauh mengutarakan bahwa di Morotai seorang tokoh islam sudah laksanakan propaganda, bahwa pada tanggal 1 Januari 1949 nanti Belanda bakal meninggalkan Indonesia dan lokasi ini bakal merdeka. Di Kao dan Wasilei timbul bentrokan pada polisi bersama dengan rakyat.

Bentrokan-bentrokan militer di Jawa pada RI bersama dengan Belanda amat mempengaruhi area Maluku Utara. PI, menurut laporan itu, sudah menyebarkan selebaran kepada anggotanya dan masyarakat umum. Isi selebaran itu memberikan bahwa Kemerdekaan bagi Indonesia, sehubungan bakal dibentuknya RIS, sudah di ambang pintu. Rakyat dihimbau sehingga tidak mendengar propaganda kosong/suara sumbang berkenaan dengannya.

Laporan itu juga memberikan bahwa pemerintah hadapi kesusahan besar didalam membenahi suasana politik di Ternate lantaran pemberitaan sistematis Koran PI, Menara Merdeka, yang mengganggu suasana keamanan, terlebih di didalam kota Ternate.

Sumber Bacaan;
M. Adnan Amal, 2010, Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950, Jakarta: KPG (Keperpustakaan Populer Gramedia).

Demikianlah ulasan berkenaan “Agresi Kedua dan Konferensi Antar Indonesia” yang pada peluang ini, sanggup Situs Pelajaran Oke sampaikan, dan kurang/lebihnya mohon maaf. Semoga berguna dan jangan lupa untuk berbagi ulasan di atas andaikan anda berkenan. Terima Kasih dan sampai Jumpa! Semoga anda Sukses selalu!

Sumber : https://www.kumpulansurat.co.id/

Baca Juga :