Ajak Siswa Al Azhar Ini Membentuk Kebiasaan Baik

Ajak Siswa Al Azhar Ini Membentuk Kebiasaan Baik

Ajak Siswa Al Azhar Ini Membentuk Kebiasaan Baik
Ajak Siswa Al Azhar Ini Membentuk Kebiasaan Baik

Pembelajaran yang menyenangkan alias fun learning benar-benar diterapkan di Sekolah Al Azhar. Pihak sekolah tidak ingin para siswanya merasa tak nyaman. Kalau sudah tidak nyaman, pelajaran akan susah terserap.

Ketua Yayasan Pesantren Islam Al Azhar Jawa Timur Bambang Tutuko mengatakan, pada awal

masuk, siswa diajak untuk senang dengan lingkungan sekolah. Sebisanya tercipta suasana nyaman agar siswa selalu ingin datang ke sekolah.
Ajak Siswa Al Azhar Ini Membentuk Kebiasaan Baik
Sekolah Al Azhar Sambut Tahun Pelajaran Baru (Grafis: Rizky/Jawa Pos/JawaPos.com)

Hal itu diwujudkan melalui ketupat harapan. Harapan yang ditulis dan ditempel di pohon ibarat sebuah akad. Harapan itu merupakan doa dan cita-cita. Tidak hanya diucapkan atau dibatin, tapi juga divisualisasikan. ”Sehingga terpatri di alam bawah sadar,” ungkapnya.

Ketupat harapan tersebut ditukar kepada teman lain. Tujuannya, siswa saling mengetahui akad teman-temannya. Akad itu pun tersyiarkan atau tersampaikan kepada orang lain. Dengan begitu, bisa memotivasi siswa untuk mewujudkannya.

Bambang mengatakan, YPI Al Azhar bukan sekadar yayasan pendidikan. Melainkan yayasan

pesantren. Para siswa diajak untuk membiasakan hal-hal yang baik dalam kehidupan sehari-hari alias membentuk kebiasan baik. ”Tanpa disadari oleh siswa, goals bisa tercapai,” bebernya.

Menulis, misalnya. Humas YPI Al Azhar Jawa Timur Niken Rooshany menjelaskan, menulis tidak boleh menjadi hukuman. Sebab, menulis adalah bagian dari pembelajaran sepanjang masa. Demikian juga hafalan. ”Jangan jadikan itu hukuman. Bisa membaca tiap hari dalam salat, itu bagian dari menghafal,” tuturnya.

Yang terpenting, pembelajaran yang diterapkan adalah fun learning. Guru harus kreatif untuk

mewujudkan pembelajaran yang menyenangkan. Sekolah, kata dia, bukan bikin stres. Melainkan, untuk belajar secara menyenangkan bersama teman-teman.

Peserta didik TK memang boleh diantar orang tuanya ketika awal masuk sekolah. Itu dimaksudkan agar siswa tidak menangis. Pada hari-hari berikutnya, mereka diharapkan bisa ditinggal tanpa ditunggui ayah dan bundanya. ”Supaya keakraban siswa dengan guru kian terjalin,” lanjutnya

 

Baca Juga :