Konferensi Meja Bundar (KMB) dan Pembentukan RIS

Konferensi Meja Bundar (KMB) dan Pembentukan RIS

Konferensi Meja Bundar (KMB) dan Pembentukan RIS
Selamat mampir di Situs Pelajaran Oke yang senantiasa berusaha memberikan berbagai informasi, utamanya perihal sejarah. Pada peluang ini Situs Pelajaran Oke akan membicarakan perihal “KMB dan Pembentukan RIS”. Tanpa berlama-lama langsung saja lihat ulasan di bawah ini.

Konferensi Meja Bundar dan Pembentukan RIS
Di mulai berasal dari tanggal 23 Agustus sampai 2 November 1949, KMB diadakan di Den Haag. Konferensi ini mempertemukan delegasi RI pimpinan Bung Hatta, delegasi BFO pimpinan Sultan Hamid Alqadri, dan delegasi Kerajaan Belanda pimpinan Menteri Daerah Seberang, van Maarseveen, serta delegasi yang mewakili PBB.

Di selagi KMB berlangsung, Bung Hatta mendominasi percakapan pihak Indonesia dan seluruh peserta KMB mengaguminya. Hasil berasal dari KMB utamanya adalah Transfer kedaulatan berasal dari Belanda kepada RIS bersama dengan pengecualian Papua.

Tanggal 6 Desember 1949 pemerintahan RI mengajukan hasil KMB kepada KNIP/Komite Nasional Indonesia Pusat, untuk diratifikasi. Dalam perhitungan nada dalam ratifikasi itu telah membuahkan 226 nada setuju, 62 menolak, dan 31 abstain.

Berdasarkan ratifikasi itu tepat terhadap tanggal 15 Desember, dikerjakan penentuan Presiden RIS bersama dengan calon tunggal Soekarno, yang secara aklamasi terpilih. Kemudian 2 hari sesudah itu tanggal 17 Desember Bung Karno dilantik sebagai Presiden RIS. Selanjutnya ia menunjuk Bung Hatta selaku formatur kabinet. Di tanggal 20 Desember 1949 Kabinet RIS terbentuk di bawah pimpinan Bung Hatta selaku Perdana Menteri.

Pada tanggal 23 Desember 1949 sebuah delegasi Pemerintahan RIS menuju ke Negeri Belanda untuk diberi tanda tangan pengakuan kedaulatan Indonesia. Dan yang turut membubuhkan sinyal tangan dalam naskah pengakuan Kedaulatan yakni, Ratu Juliana, Perdana Menteri Willem Drees, Menteri Urusan Daerah Seberang Mr. Sassen, Bung Hatta juga turut diberi tanda tangan sebagai ketua delegasi RIS.
Bertepatan bersama dengan perihal itu Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Wakil Tinggi Mahkota Belanda di Indonesia, Lovink, lakukan perihal serupa dalam suatu upacara di Istana Negara, Jakarta. Bendera Belanda diturunkan dan diganti bersama dengan mengibarkan Bendera Merah Putih. Hal berikut merupakan momen yang menandai berakhirnya kekuasaan kolonial Belanda di hampir seluruh Indonesia untuk selamanya.

Namun sesudah itu masih ada perihal yang semuanya rampung, yakni pengakuan kedaulatan Indonesi oleh Belanda itu tidak mencakup Papua. Dalam perundingan yang sukar di KMB, Indonesia terpaksa menambahkan konsesi kepada Belanda; Kedaulatan atas Papua senantiasa dipertahankan Belanda sampai ada perundingan lebih jauh tentangnya. Sementari itu setumpuk hutang Belanda di Indonesia sebesar 4,3 Miliar Gulden yang merupakan cost yang dipakai Belanda akan dibebankan kepada RIS. Selain itu juga ada sebagian jaminan terhadap investasi Belanda di Indonesia juga dimasukkan sebagai beban RIS.

Sumber Referensi;
Hlm.461-462, M. Adnan Amal, 2010, Kepulauan Rempah-rempah: Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950 [edisi kedua], Jakarta: KPG.

Demikian ulasan perihal “ KMB dan Pembentukan RIS” yang terhadap peluang ini mampu disampaikan, dan kurang/lebihnya mohon maaf. Semoga berfaedah dan jangan lupa untuk sharing ulasan di atas ke teman-teman anda! Terima kasih! Sampai Jumpa!

Baca Juga :