BEGU GANJANG DAN KESENJANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT

BEGU GANJANG DAN KESENJANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT

BEGU GANJANG DAN KESENJANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT
BEGU GANJANG DAN KESENJANGAN SOSIAL DI MASYARAKAT

Tidak bisa saya pungkiri, berdasarkan apa yang saya liat pada tahun 1998 sampai tahun 2000, bahwa orang yang dituduh memelihara begu ganjang adalah orang yang dari segi ekonomi dapat dikatakan menengah ke atas. Dalam artian termasuk sebagai orang yang mapan dibandingkan dengan masyarakat di sekitarnya.

Hal inilah yang sering kali dijadikan alasan seseorang dituduh memelihara begu ganjang. Masyarakat berkeyakinan bahwa kekayaan yang diperolehnya bukan dari hasil kerja kerasnya, melainkan dari persekutuan sesat dengan ilmu hitam yang dalam hal ini disebut begu ganjang. Saya sering mencoba menghubungkan realitas yang ada, memang benar orang yang telah terbukti memelihara begu ganjang tergolong orang yang cukup mapan, tapi bukan berarti orang yang biasa-biasa saja tidak boleh memelihara begu ganjang.

Ada sebuah realitas yang menurut saya cukup unik pada masa itu. Bahwa hampir sebagian besar orang yang dituduh memelihara begu ganjang adalah boru Hutabarat (mohon maaf bagi Dongan Tubu Hutabarat). Saya sebagai marga Hutabarat, saat itu menggap hal ini adalah sebuah kebetulan yang sangat memalukan.

Seperti yang sudah saya katakan di awal, memang praktek begu ganjang sudah ada dalam masyarakat tradisional Batak, namun isu ini mencuat ke atas lagi pada tahun 1998, dimana negeri ini dilanda krisis ekonomi. Menurut pendapat saya, keadaan masa itu yang serba sulit membuat kesenjangan social di dalam masyarakat cukup mencolok. Oleh karena perbedaan ini juga tidak jarang orang saling mendengki, memusuhi dan saling menjatuhkan. Dan hal ini bisa menjadi pemicu rasa saling iri. Harus kita akui, bahwa masih banyak masyarakat di kampong yang masih memendam empat sifat buruk manusia, yaitu Hosom, Teal, Elat, Late (HOTEL). Sehingga mereka dapat dengan mudah disulut kemarahannya oleh pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa menggunakan akal sehat, langsung main hakim sendiri.

Disinilah diharapkan peranan penting dari para pemuka adat dan pemuka agama. Terlebih bagi para pemuka agama, tidak selayaknya umat yang mengaku dirinya ber Tuhan dan beragama melakukan tindakan-tindakan konyol seperti ini. Apalagi segala bentuk praktek perdukunan adalah sesuatu yang sangat dilarang oleh agama manapun. Dan hendaknya sesama manusia kita saling mengasihi, apalagi kita hidup di dalam masyarakat yang saling membutuhkan.

Sumber :https://indianapoliscoltsjerseyspop.com/