PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PRAKTEK BEGU GANJANG

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PRAKTEK BEGU GANJANG

PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PRAKTEK BEGU GANJANG
PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PRAKTEK BEGU GANJANG

Begu ganjang digolongkan dalam praktek ilmu hitam (black magic), sementara di dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana tidak ada pasal yang mengatur mengenai praktek ilmu hitam ini. Sering di temui kasus tentang praktek ilmu hitam ini, misalnya, seorang melakukan pembunuhan, menurut pengakuannya dia mendapat perintah dari suara yang menyuruhnya membunuh orang tertentu. Atau juga ada orang yang dilaporkan melakukan pembunuhan dengan santet. Kasus-kasus yang seperti ini tidak jarang membuat para penegak hukum kebingungan dan kewalahan dalam mengorek informasi.

Jujur saja, ilmu hitam (black magic) adalah sesuatu hal yang metafisik. Dan tidak semua orang mempercayai keberadaan ilmu hitam ini. Dalam pembuktiannya sendiri, juga selalu menemui kebuntuan, karena alat-alat bukti yang mendukung sama sekali tidak ada. Seperti pembunuhan misalnya, untuk pembunuhan normalnya alat bukti berupa pisau, kayu atau yang terkait dengan ini, tetapi untuk kasus yang ini berbicara masalah sesuatu yang tidak berwujud. Sehingga sering sekali pelaku black magic tidak dipidana dengan pidana pembunuhan dan sebagainya, melainkan dengan pasal meresahkan masyarakat.

Tetapi hal ini dapat memicu warga melakukan tindakan anarki. Karena mereka menganggap bahwa kepolisian tidak dapat menangani kasus ini, sehingga mereka main hakim sendiri. Saya sendiri tidak setuju dengan sikap main hakim sendiri dari masyarakat terhadap orang yang dicurigai memelihari begu ganjang, sekalipun orang itu sendiri telah terbukti melakukan praktek begu ganjang.

Sama halnya dengan kasus yang di Muara, awalnya hanya berdasarkan kata dukun, bukan berdasarkan pembuktian langsung terhadap orang yang bersangkutan. Coba anda bayangkan, sudah tiga nyawa yang melayang dengan cara yang tidak manuasiawi padahal ketiga orang tersebut belum tentu terbukti memelihara begu ganjang. Ketakutan saya, hal ini kelak akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang berkepentingan. Misalnya, saat seseorang tidak senang dengan orang lain, dengan mudah saja dia memprovokasi warga dengan menuduhnya sebagai Parula-ula.

Pendapat saya untuk kasus yang seperti ini perlu dilakukan penelitian yang lebih intensif lagi. Coba bayangkan, jika kasus black magic disidangkan di pengadilan, siapakah saksi ahlinya? Mungkinkah seorang paranormal. Saya lebih setuju kasus yang seperti ini diselesaikan dengan jalan mediasi (Alternative Dispute Resolusition).

Baca Juga ;