PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW

PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW

PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW
PENDIDIKAN PKN PENGASUHAN ANAK TKW
Tenaga Kerja Indonesia (TKI) adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. TKI perempuan sering kali disebut Tenaga Kerja Wanita (TKW). Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri, tenaga kerja Indonesia adalah setiap warga negara Indonesia yang memenuhi syarat untuk bekerja di luar negeri dalam hubungan kerja untuk jangka waktu tertentu dengan menerima upah yang selanjutnya disebut dengan TKI.
Tujuan utama orang pergi ke luar negeri dan bekerja di sana tidak lain dan tidak bukan adalah demi untuk memperoleh penghasilan yang besar. Dengan penghasilannya yang besar itulah, maka orang berharap dapat memenuhi pelbagai kebutuhan hidupnya. Dan dengan iming-iming penghasilan yang besar itulah yang kemudian memicu orang untuk berbondong-bondong pergi bekerja keluar negeri, demi mengejar impiannya, merengkuh hidup enak dan berkecukupan.
Selain faktor penghasilan yang besar, faktor lainnya yang memicu berbondong-bondongnya orang pergi untuk bekerja keluar negeri adalah sulitnya mencari dan memperoleh pekerjaan yang ada di negerinya sendiri (Indonesia). Pelbagai lapangan pekerjaan yang ada di negeri ini rasanya seperti telah dijejali oleh ribuan atau bahkan jutaan orang, sehingga hal tersebut tidak memberikan kesempatan bagi generasi angkatan kerja berikutnya. Ketika ada salah satu atau beberapa lapangan pekerjaan dibuka, maka dengan segera orang akan berlomba-lomba memasukan surat lamaran pekerjaan, bersaing merebutkan pekerjaan tanpa peduli apakah pekerjaan itu sesuai dengan keahliannya atau tidak.
Begitu halnya dalam penelitian ini, kota kretek yang mempunyai pabrik-pabrik rokok yang mampu menyerap tenaga kerja tidak mempengaruhi para wanita-wanita di dukuh X untuk bekerja di pabrik. Hal ini karena letak dukuh X terpencil dan bahkan dekat dengan perbatasan Kabupaten Pati. Sehingga para wanita dukuh X lebih baik memilih menjadi TKW yang penghasilannya cukup untuk memenuhi keluarga mereka.
Kehidupan sehari-hari warga dukuh X sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Aktivitas sehari-harinya digunakan untuk pergi ke sawah. Pekerjaan sebagai petani ini sebagian besar dipegang oleh laki-laki. Para wanita Dukuh X sendiri tidak banyak yang terlibat dalam pekerjaan di sawah. Hanya ketika masa panen padi saja sebagian wanita dari ibu-ibu dan wanita yang sudah menikah ikut memanen padi baik itu dibayar oleh penyewa tenaga kerja maupun sistem imbal balik.
Wanita-wanita Dukuh X ini hanya ikut bekerja ketika masa panen padi datang. Selain itu, aktivitas kesehariannya adalah sebagai ibu rumah tangga biasa yang mengasuh anak dan menyiapkan makan untuk suami. Karena kebutuhan ekonomi keluarga yang semakin kompleks wanita-wanita Dukuh X berinisiatif untuk merantau keluar negeri yaitu menjadi tenaga kerja Indonesia yang selanjutnya disebut tenaga kerja wanita (TKW). Hal ini dilakukan hanya untuk mencari tambahan penghasilan untuk keluarga mereka. Sebelumnya penghasilan keluarga yang hanya menunggu masa panen padi saja sekarang penghasilan keluarga dapat dibantu oleh sang istri yang menjadi TKW di luar negeri. Sehingga TKW akan menjadi pilihan satu-satunya wanita di dukuh X untuk membantu penghasilan keluarga.

Anak-anak yang setiap hari mendapatkan perhatian dari seorang ibu, kini mereka hanya mendapatkan perhatian dari seorang single parent ayah saja. Manfaat kedekatan orang tua sangat besar bagi anak, diantaranya menumbuhkan rasa percaya diri. Kedekatan orang tua pada anak juga akan memberikan rasa nyaman pada diri anak sehingga anak merasa menjadi individu yang selalu diperhatikan orang tuanya. Perhatian dan kasih sayang orang tua yang stabil, menumbuhkan keyakinan bahwa dirinya berharga bagi orang lain.

Anak yang tumbuh dalam hubungan kasih sayang yang hangat, akan memiliki sensitivitas atau kepekaan yang tinggi terhadap kebutuhan sekitarnya. Perkembangan kepribadian dan perilaku anak, sangat ditentukan oleh bagaimana orang tua membimbing dan mengasuh anak mereka. Peran ibu sangat penting, karena ibu lah yang mengandung selama 9 bulan, kemudian menyusui, serta menimang anak hingga seorang anak menjadi mandiri dan dewasa. Selain itu orang tua yang baik juga mengajarkan anak-anak mereka tentang etika, agama, dan pelajaran lain yang akan mengembangkan pola pikir dan perilaku anak ke arah yang baik.
Sebuah penelitian yang dilakukan beberapa peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dan kampus lain dengan judul “Children Health and Migrant Parents in Southeast Asia (CHAMPSEA)” atau dampak migrasi internasional terhadap keluarga dan anak migran. Hasil penelitian tersebut menyebutkan “Secara ekonomi, migrasi internasional berdampak positif terhadap keluarga migran, namun juga berdampak negatif khususnya terhadap kesehatan psikologis anak,” ungkap tim peneliti Drs Sukamdi MSc serta Dr Anna Marie Wattie MA dalam acara diseminasi hasil penelitian CHAMPSEA di kantor Magister Studi Kebijakan (MSK) UGM, Yogyakarta. (dikutip dalam http://kliktki.com/news/content/anak-yang-ditinggal-ortu-jadi-tki-banyak-alami-Masalah-psikologis)
Demikian halnya melihat banyaknya jumlah wanita di Dukuh X ini yang menjadi TKW di luar negeri menyebabkan anak akan menjadi kurang akan perhatian dari ibu kandung mereka.
Menilik kehidupan keluarga TKW di Dukuh X tersebut, peneliti tertarik untuk menyusun skripsi dengan judul “POLA ASUH ANAK TENAGA KERJA WANITA (TKW) OLEH SINGLE PARENT AYAH DI DUKUH X“.